Flash Banner

INVESTASI CUMA RP 10.000,-

Rabu, 01 Oktober 2014

“Sungun Sampah” - Cerita Sampah Part 2

Diambil Susi Mardiyanti
Tanggaal 7 Desember 2013, 08.12
Lokasi TPS DINOYO, jl simpang gajayana
“Sungun Sampah”
Beliau adalah bapak Maad umur 50 tahun, alamat kampung sampah di jalan simpang gajayana, Merjosari Lowokwaru. Seperti yang tampak pada gambar pekerjaan beliau adalah seorang pemulung. Pemulung di tempat pembuangan sampah.  Foto ini diambil dari sisi dalam TPS dinoyo, ketika pak Maad sudah selesai mengumpulkan sampah yang bisa dijual dari TPS ini dan berpamitan pulang.
Tempat pembuangan sampah yang paling dekat dengan rumahnya adalah TPS dinoyo, sehingga setiap hari bisa dengan mudah mencari sampah hanya dengan bermodal kakinya. Penghasilan beliau dari memulung sampah perbulannya sekitar 600-700 ribu, bisa bertambah jika waktu yang digunakan untuk memulung lebih banyak, sehingga benda yang disungun dikepalanya lebih banyak dan berat. Barang yang dicari pak Maad berupa barang botol, aqua gelas plastik-plastik serta kertas, kerdus, Koran yang masih bagus. Semua barang yang didapat pak Maad setiba dirumah akan dipilah dan diklasifikasikan sesuai permintaan pasar sehingga siap dijual.

Kamis, 17 Juli 2014

Cerita Tentang Karman: REVIEW BUKU 'KUBAH'



Tepat disampul depan bagian bawah ada ungkapan gus Dur, ini adalah karya tentang gagasan besar rekonsiliasi peristiwa G30S 1965/PKI. Pada sampul bagian belakang buku ini juga sudah tertera synopsis singkat tentang bagaimana alur cerita yang akan disajikan oleh Ahmad Tohari, dari inti tulisan tersebut dapat menggugah pembaca untuk segera menamatkan buku ini karena penasaran bagaimana cerita selengkapnya.

Ahmad Tohari membuat alur yang indah sehingga pembaca tidak bosan, alur yang maju mundur membuat pembaca tidak bisa membaca dengan melompat-lompat, namun harus urut sehingga makna yang didapatkan bisa secara utuh. Penggambaran karakter yang cukup jelas sehingga pembaca bisa secara mandiri untuk membuat penggambaran yang jelas. Ahmad Tohari mengaplikasikan teori-teori tentang komunis kedalam bentuk yang sederhana sehingga pembaca tak perlu berulang-ulang membaca untuk memahaminya. Namun yang masih saya pertanyakan apakah memang semua ajaran komunis itu salah, mengapa yang banyak diceritakan tentang komunis di negeri ini sarat dengan hal yang buruk. Saya masih penasaran tentang hal yang berkaitan dengan komunis dibalik semua label keburukan itu.

Karman sebelum bertemu dengan Marni pernah cinta mati dengan Rifah, Syarifah ibu Jabir, anak dari Haji Bakir. Setelah Rifah menikah dengan yang lain, Karman masih terngiang dan untuk beberapa tahun ia belum bisa melupakannya sampai akhirnya bertemu dengan Marni yang bisa menaklukan hatinya. Namun sayangnya saya tidak mendapatkan penggambaran yang utuh tentang bagaimana Marni bisa memikat hati Karman yang dalam perjalanan cintanya karman seolah lupa dengan masa lalunya dengan Rifah.

Karman disini digambarkan sebagai korban yang mulanya tidak tau apa-apa, namun dari awal Karman yang sudah menjadi target kader partai secara berkelanjutan oleh orang partai untuk menanamkan ajaran partai secara tersirat kepada Karman atas awal mula penanaman jasa kepada Karman terhadap orang partai. Dalam jangka waktu dua tahun karman berubah pandangan berpikirnya dari awal yang taat pada agama secara terang-terangan membenarkan ajaran partainya yang menganggap agama adalah candu bagi orang yang tertindas agar tidak melakukan resistensi terhadap orang yang berada diatasnya yang berlaku semena-mena.

Terlepas dari semua itu novel ini mengingatkan lagi bagaimana salah satu sejarah bangsa ini tentang perjalanan setelah kemerdekaan, makar berdarah yang membuat ada pembeda yang benar dan salah, yang dibenarkan dan disalahkan, yang untuk menebus kesalahan itu adalah dengan kematian dan juga pengasingan.