Flash Banner

INVESTASI CUMA RP 10.000,-

Tampilkan postingan dengan label tugas antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas antropologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

PETANI JUGA RAKYAT INDONESIA YANG BUTUH KESEJAHTERAAN



Oleh: Susi Mardiyanti/ 125110800111021
Juni 2012 lalu pak menteri BUMN, Dahlan Iskan menyatakan bahwa setiap bulan ada rapat yang menentukan impor beras atau tidak. Dilansir di Tempo bahwa sampai bulan juni 2012 tidak ada jadwal untuk mengimpor beras dari negara-negara seperti thailand, Vietnam. Beliau juga berucap bahwa bulan juli mungkin keputusannya  tetap sama. Itu disebabkan daerah-daerah yang surplus beras masih bisa menanggulangi daerah yang kekurangan beras. Namun data menyebutkan bahwa ada penurunan produksi beras sampai 40% pada tahun lalu. Sehingga pada tahun ini pemerintah berupaya meningkatkan produksi panen dengan memperhatikan bibit, pupuk, pembasmi hama dan sebagainya. Dan keputusan tidak impor beras adalah hal yang mustahil.
"Tahun lalu Indonesia mengimpor setidaknya 1,7 juta ton beras dari negara lain. Tahun ini bagaimana? Saya belum berani berjanji. Namun saya berharap tidak ada impor beras lagi tahun ini," kata menteri BUMN di Semarang, Sabtu 16 Juni 2012.
Berita itu hanya beberapa bulan yang lalu, kini pada bulan November 2012 sudah ada berita bahwa Indonesia akan mengimpor beras dari Kamboja sebesar 1,1 juta ton yang akan dikirim pada bulan Desember 2012 sebanyak 100 ribu ton dan sisanya, 1 juta ton akan dikirim tahun depan.
Sebagai masyarakat biasa, saya mendengarnya kaget sekali. Sangat miris, dan perasaan ketidakpercayaan itu ada, semua ini seperti mimpi, padahal dilain pihak ada yang mengabarkan bahwa sebagian daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan hasil panen mereka mengalami surplus setiap tahunnya. Apalagi para petani, sebagai pelaku penyedia beras yang sudah bekerja keras untuk pemenuhan beras di negeri tercinta ini, pasti mereka merasa sedih. 
Bisa dilihat bahwa kehidupan mereka ada pada tingkat ekonomi yang lemah. Sudah tergambar jelas bahwa nasib mereka bergantung pada impor beras atau tidak. Jadi, peningkatan kesejahteraan bagi mereka juga terhambat. Ini juga bisa memicu berkuarangnya lahan pertanian, dalam arti dijualnya lahan pertanian mereka kepada instansi-instansi pendiri perumahan-perumahan baru, karena mereka tidak bisa lagi menggantungkan hidupnya dari hasil panen. Keputusan yang terbaik menurut mereka. Petani juga rakyat Indonesia yang membutuhkan kesejahteraan.
Ini bisa juga disebut sebagai pengkhiatanan terhadap petani Indonesia karena petani di Indonesia dianggap tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Mereka seperti tidak dianggap. Mereka ada tetapi tidak diperhatikan nasibnya.
Menurut data dari Bulog, dalam kurun waktu tahun belakangan ini hanya tiga kali pemerintah Indonesia tidak melakukan impor beras yaitu pada tahun 1993, 2008 dan 2009. Bersyukur, setidaknya bisa dibanggakan. 
Dari segi kuantitas dan kualitas memang jauh beras produksi Indonesia dibanding dengan beras dari luar negeri, karena benih dan teknologi yang digunakan sudah berbeda. 
Menurut saya, pemerintah hanya berpikir di satu sisi, yaitu dengan impor kebutuhan beras dalam negeri tercukupi dengan kualitas beras yang baik dan juga harga yang murah, itulah yang menyebabkan impor adalah pilihan yang terbaik dari pemerintah  (khususnya bagian yang memegang Bulog) untuk menyambung hajat hidup orang banyak. Disisi lain pemerintah tidak memperhatikan kaum penghasil beras yang merasa dicurangi, bagaimana nasib mereka selanjutnya.
Pemerintah juga beralasan bahwa anomaly cuaca yang tidak menentu di masa mendatang dapat menyebabkan kesulitan bahan pangan apabila tidak dipenuhi dari sekarang. Dan impor beras ditujukan untuk stok dalam negeri sehingga tidak mengalami defisit.
Seharusnya petani dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menjadikan Negara ini sebagai Negara swasembada beras, bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitas. Sehingga kaum penyedia beras terangkat kesejahteraannya. Dan semoga tidak ada keputusan sepihak dari pemerintah yang bisa merugikan petani Indonesia. Dari tahun ketahun perum Bulog harus melakukan evaluasi sehingga strategi “dorong -tarik” dan pengembangan “jaringan semut” dapat meningkatkan hasil panen dalam negeri. Sehingga penyerapan beras dalam negeri dapat dioptimalisasi.
Saya kutip dari itoday  Monday, 07 May 2012 11:5. Sutarto (Dirut Perum Bulog) mengungkapkan, strategi jaringan semut yakni Bulog membeli gabah dan beras petani, langsung dari kelompok tani dan penggilingan-penggilingan kecil yang sarananya terbatas. Bulog juga mendorong masuknya mitra-mitra baru dengan sistem pelayanan yang mudah, cepat, dan sederhana.
"Sampai akhir April, pembelian Bulog telah mencapai di atas 1,32 juta ton atau naik 57 persen dari pengadaan tahun lalu," ujarnya.
Semoga di tahun kedepan pemerintah tidak melakukan impor beras dalam pemenuhan beras dalam negeri, semoga ada jalan lain selain impor beras (masih belum mungkin, karena impor beras akan di canangkan sampai tahun 2014, tetapi tidak ada salahnya berharap suatu yang baik). Bila tidak impor beras yang diuntungkan adalah semua pihak, yaitu ada peningkatan kesejahteraan kaum penyedia beras, ada kebanggaan terendiri sebagai kaum penyedia beras, masyarakat yang mencintai produk dalam negeri, dan lahirnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah dan sebaliknya.

Jumat, 16 November 2012

ANTROPOLOGI FORENSIC DAN ANTROPOLOGI BUDAYA



Kuliah tamu: Bu Myrta D. Artaria
Dewasa ini, Antropologi sebagai salah satu dari ilmu pengetahuan social karena berobjek manusia semakin menunjukkan eksistensinya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya program pendidikan ini di perguruan-perguruan tinggi Negeri semakin banyak dan peminnatnya dari tahun ketahun menunjukkan peningkatan. Dengan demikian antropologi tidak hanya dipandang sebagai ilmu yang mempelajari tentang manusia kuno atau suku-suku di jaman dulu, tetapi prodi yang mempunyai prospek kerja yang baik.
Antropologi adalah ilmu untuk memahami manusia, karena sudah dipastikan manusia memiliki permasalahan yang kompleks. Antropologi ini dibagi menjadi dua cabang yaitu: antropologi social budaya dan antropologi fisik.
Pengertian dari Antropologi forensic/fisik merupakan bidang ilmu untuk physical anthropologists yang mengaplikasikan ilmunya dalam bidang biologi, sains, dan budaya dalam proses hukum. (Yayan_Akhyar)
Bersumber dari blog ladyrosyluna Jatinangor, West Java, Indonesia bahwa Forensik Antropologi merupakan bentuk dari Antropologi Terapan yang menggabungkan ilmu Antropologi Fisik/Biologi dengan Osteologi, atau ilmu tentang tulang juga Odontologi atau ilmu tentang gigi. Kedua ilmu tersebut, Osteologi dan Odontologi digunakan khusus dalam forensik guna mengidentifikasi tulang ataupun gigi dari mayat yang bisa jadi adalah korban kejahatan atau kecelakaan.
Manusia dibagi kedalam variasi fisik, biologis dan budaya. Aspek budaya meliputi: perilaku social, interaksi social, komunitas social, dsb. Aspek fisik dan biologis meliputi: perawakan, pigmentasi, tipe darah, nenek moyang dan asal-usulnya, proses evolusi yang terjadi, dsb.
Antropologi memadukan segala integrative dari tinjauan biologis dan tinjauan social budaya terhadap perkembangan kehidupan manusia.
Setiap bidang dari ilmu pengetahuan pasti mempunyai ladang yang bisa dikerjakan, seperti halnya sosiologi yang mengamati perilaku masyarakat yang berdasarkan teori-teori yang ada. Adakalanya orang awam meragukan lahan kerja untuk bidang antropologi karena ketidaktahuannya akan informasi. Hal-hal yang bisa dikerjakan oleh seorang yang belajar antropolog atau seorang antropolog adalah:
Belajar tentang fosil, yaitu rangka manusia dan hewan yang ditemukan pada saat melakukan pencarian yang disengaja, tetapi dalam bentuk rangka yang tidak lengkap atau rangka yang terpisah-pisah atau hanya bagian-bagian yang ditemukan karena terkubunya jasad manusia atau hewan dalam kurun waktu yang lama.
Mencari fosil dan artefak, fosil merupakan kerangka manusia/hewan sedangkan artefak adalah benda bersejarah yang hilang, sehingga bermakna bila ditemukan.
Belajar tulang dan gigi, dengan ini para antropolog dengan mudah bisa membedakan kerangka dengan jenis kelamin apa yang yang ditemukan, dapat mengetahui umur kerangka tersebut.
Belajar tentang primate, seperti: simpanse, orang utan, gorilla.
Belajar tentang manusia, seperti: orang yang berambut keriting cenderung tinggal di daerah pantai karena membutuhkan aliran angin yang lebih pada rambutnya sehingga menimbulkan efek isis, dan orang yang berambut lurus kabalikannya. Dan belajar tentang budaya yang masing-masing daerahnya mempunyai kekhasan tersendiri.
Metode yang dipakai antropolog dalam penelitiannya adalah:
1.      Deskriptif, yaitu secara penggambaran suatu kejadian dari berbagai tempat dan waktu.
2.      Holistic, yaitu metode yang melihat dari sudut tinjauan yang luas dan memetakannya kedalam suatu gambaran yang total dan menyeluruh.
3.      Komparatif, yaitu membandingkan persamaan dan peprbedaan ciri-ciri fisik dan budaya manusia di suatu daerah yang didiaminya. Cara membandingkannya ada dua cara yaitu: diakronik (perbandingan waktu), sinkronik (perbandingan tempat).
4.      Kualitatif, yaitu tehnik pengumpulan data dengan cara penguatan dan wawancara mendalam.
Tidan membedakan antara antropologi fisik atau antropologi budaya, bahwa keduanya merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan segala yang melingkupinya (bu Zurin). Bahwa manusia sebagai species hewan yang paling tinggi tingkatnya karena mempunyai budaya dan budaya tersebut yang menyebabkan manusia yang satu dan yang lain dalam suatu daerah mempunyai perbedaan dalam konsep kehidupannya.